Apa itu titik impas
Titik impas atau break-even point (BEP) adalah jumlah penjualan yang membuat total pendapatan sama dengan total biaya. Di titik ini kamu tidak untung dan tidak rugi. Satu unit terjual di atasnya mulai menambah laba, sedangkan kurang dari itu usahamu masih tombok. Angka ini membantumu menjawab pertanyaan penting: berapa banyak yang harus laku sebulan supaya biaya tetap tertutup?
Rumus cara menghitung BEP
Ada dua rumus yang perlu kamu pegang.
BEP unit = biaya tetap dibagi (harga jual per unit dikurangi biaya variabel per unit), dibulatkan ke atas
BEP rupiah = BEP unit dikali harga jual per unit
Selisih harga jual dan biaya variabel disebut sisa per unit atau margin kontribusi. Itulah uang yang tersisa dari tiap unit untuk menutup biaya tetap. Pembulatan ke atas dipakai karena kamu tidak bisa menjual 0,3 unit. Kalau hasilnya 214,3, kamu butuh 215 unit.
Biaya tetap dan biaya variabel
Hasil hitunganmu hanya akurat kalau kedua jenis biaya ini dipisah dengan benar. Berikut contoh untuk penjual online skala kecil.
| Jenis | Contoh |
|---|---|
| Biaya tetap | Sewa tempat atau gudang, gaji karyawan, langganan aplikasi, internet |
| Biaya variabel | HPP atau modal produk, kemasan dan lakban, potongan marketplace, komisi afiliasi |
Biaya yang jumlahnya ikut berubah mengikuti pesanan masuk ke kolom variabel. Kalau kamu belum yakin dengan modal produknya, hitung dulu lewat kalkulator HPP.
Contoh perhitungan
Kalkulator di atas terbuka dengan angka berikut.
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Biaya tetap per bulan | Rp 3.000.000 |
| Harga jual per unit | Rp 50.000 |
| Biaya variabel per unit | Rp 30.000 |
| Sisa per unit | Rp 20.000 |
| BEP unit | 150 unit |
| BEP rupiah | Rp 7.500.000 |
Langkahnya begini:
- Hitung sisa per unit: Rp 50.000 dikurangi Rp 30.000 sama dengan Rp 20.000.
- Bagi biaya tetap dengan sisa itu: Rp 3.000.000 dibagi Rp 20.000 sama dengan 150 unit.
- Kalikan dengan harga jual: 150 dikali Rp 50.000 sama dengan Rp 7.500.000.
Dalam satu bulan, kamu perlu menjual 150 unit atau omzet Rp 7.500.000 supaya biaya tetap tertutup.
Cara membaca hasilnya
Bagi BEP unit dengan 30 hari. Untuk contoh tadi, 150 dibagi 30 sama dengan 5 unit per hari. Angka harian ini lebih mudah dipantau dibanding target sebulan. Kalau rata-rata penjualanmu sudah di atas 5 unit sehari, kamu aman. Kalau di bawahnya, ada selisih yang harus dikejar.
Setelah melewati BEP, setiap unit tambahan menyumbang sisa per unit sebagai laba. Misalnya kamu menjual 200 unit. Ada 50 unit di atas titik impas, jadi labamu 50 dikali Rp 20.000 sama dengan Rp 1.000.000. Cek ulang: omzet Rp 10.000.000 dikurangi biaya variabel Rp 6.000.000 dan biaya tetap Rp 3.000.000 memang menyisakan Rp 1.000.000.
Tiga cara menurunkan BEP
BEP yang lebih rendah berarti kamu lebih cepat sampai ke laba. Kamu punya tiga tuas, dan semuanya bisa kamu coba langsung di kalkulator.
- Naikkan harga jual. Harga Rp 55.000 dengan biaya variabel tetap Rp 30.000 memberi sisa Rp 25.000, sehingga BEP turun menjadi 120 unit. Kalau kamu bingung menentukan harganya, pakai kalkulator harga jual.
- Turunkan biaya variabel. Dengan biaya variabel Rp 25.000 dan harga tetap Rp 50.000, sisa per unit juga Rp 25.000 dan BEP menjadi 120 unit. Coba negosiasi harga supplier atau cari kemasan yang lebih murah.
- Kurangi biaya tetap. Kalau biaya tetap turun dari Rp 3.000.000 menjadi Rp 2.400.000, BEP menjadi 120 unit juga, sebab Rp 2.400.000 dibagi Rp 20.000 sama dengan 120.
Ketiganya bisa dikombinasikan. Perubahan kecil di beberapa tempat sering lebih realistis daripada satu perubahan besar.
Keterbatasan metode ini
BEP adalah alat bantu yang sederhana, jadi ada asumsi di belakangnya.
- Harga jual dianggap sama untuk semua pembeli. Diskon, voucher, dan harga grosir akan menggeser hasilnya.
- Biaya tetap dan biaya variabel per unit dianggap konstan, padahal harga modal bisa berubah kalau kamu membeli dalam jumlah besar.
- Semua yang kamu beli atau produksi dianggap laku. Stok yang menganggur tidak masuk hitungan.
Pakai hasilnya sebagai patokan awal, lalu sesuaikan dengan kondisi tokomu.
Kesalahan yang sering terjadi
- Lupa memasukkan potongan marketplace ke biaya variabel, sehingga sisa per unit terlihat lebih besar dari kenyataan.
- Memasukkan gajimu sendiri atau biaya iklan bulanan ke kolom yang salah. Iklan yang besarnya tergantung jumlah pesanan lebih cocok di biaya variabel.
- Memakai harga sebelum diskon padahal sebagian besar pesanan terjual dengan harga promo.
- Tidak membulatkan BEP ke atas, sehingga targetnya kurang sedikit dari yang dibutuhkan.
- Tidak menghitung ulang setelah harga modal atau harga jual berubah.
Penutup
Titik impas memberi kamu target yang jelas: berapa unit sehari yang harus laku sebelum laba mulai masuk. Kalau kamu ingin menjual lewat toko online milikmu sendiri, coba kiooz gratis 7 hari.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Apa itu BEP atau titik impas?
BEP (break-even point) atau titik impas adalah jumlah penjualan saat total pendapatan sama dengan total biaya, jadi kamu belum untung dan belum rugi. Penjualan di atas titik ini mulai menghasilkan laba.
Apa beda biaya tetap dan biaya variabel?
Biaya tetap jumlahnya sama setiap bulan walau penjualan naik atau turun, contohnya sewa tempat, gaji, dan langganan aplikasi. Biaya variabel naik seiring jumlah unit terjual, contohnya HPP, kemasan, dan potongan marketplace.
Bagaimana kalau BEP terasa terlalu tinggi?
Ada tiga jalan yang bisa kamu coba: naikkan harga jual, turunkan biaya variabel per unit, atau kurangi biaya tetap. Ubah satu angka dulu di kalkulator untuk melihat pengaruhnya.
Bagaimana menghitung BEP kalau produknya lebih dari satu?
Cara paling sederhana adalah memakai harga jual dan biaya variabel rata-rata dari semua produk sesuai porsi penjualannya. Atau hitung per produk dengan membagi biaya tetap secara adil di antara produk-produk itu.
Seberapa sering BEP perlu dihitung ulang?
Hitung ulang setiap kali harga jual, harga modal, atau biaya tetapmu berubah. Kalau semuanya stabil, cek sebulan sekali sudah cukup.